Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
10 BEKAL AMAL
Dakwah Islamiyah adalah harakatu ishlah wa taghyir (gerakan perbaikan dan perubahan). Perbaikan dan perubahan dari jahiliyah kepada Islam; dari syirik kepada tauhid; dari penyembahan makhluk kepada penyembahan Khaliq; dari orientasi dunia kepada orientasi akhirat; dari kezaliman tirani kepada keadilan Islam; dari hukum nenek moyang buatan manusia kepada syariat Allah; dan dari perilaku tercela kepada perilaku terpuji.
Dengan begitu dakwah islamiyah juga merupakan gerakan iqomatuddin (penegakkan agama). Sebuah proses menyeluruh yang mengupayakan terjadinya peralihan struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat.
“…supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al-Anfal, 8: 39)
Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Karena demikian banyak waktu dan tenaga yang akan terkuras. Demikian panjang dan terjal jalan yang harus dilalui. Oleh karena itu para pengemban dakwah wajib menyiapkan bekal yang cukup di perjalanan.
(1) Ilmu dan Pemahaman
Bekal utama para pengemban dakwah adalah ilmu dan pemahaman. Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid dalam Nazharat fi risalatut ta’lim menyatakan, “Pemahaman yang benar dapat membantu mewujudkan amal yang benar, penerapannya yang tepat, dan dapat memelihara pemiliknya dari ketergelinciran.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka unsur merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya.”
Orang ikhlas yang beramal, tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dapat tersesat jauh dari jalan kebenaran.
(2) Keikhlasan
Selain ilmu dan pemahaman, bekal lain yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah keikhlasan. Sehingga amalnya tidak tercampuri oleh keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan materi, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan mereka, mengikuti bisikan nafsu, atau ambisi-ambisi lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apa pun bentuknya.
Para pengemban dakwah hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat maupun gelar. Dengan begitu ia menjadi ‘tentara aqidah’, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia.
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An’am, 6: 162-163)
(3) Stamina Amal
Peradaban Islam mustahil terwujud dengan amal tak beraturan, sporadis, reaksioner, temporer dan tambal sulam. Apalagi sekedar menebar slogan mentereng dan propaganda kosong. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib membekali diri mereka dengan stamina amal yang kuat. Karena mereka akan melakukan amal secara berkesinambungan, tanpa lelah dan tanpa bosan. Ingatlah, sungguh tiada tempat sedikitpun bagi orang-orang yang malas dan berpangku tangan dalam barisan dakwah.
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah, 9: 105)
(4) Ruhul Jihad
Tanpa jihad, dakwah tidak akan pernah hidup. Urutan jihad yang pertama yang dituntut dari para pengemban dakwah adalah pengingkaran hati terhadap kemaksiatan pada Allah, dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah ta’ala. Diantara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Hajj, 22: 78)
Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad,
“Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”
Muqatil berkata,
Makna jihad adalah “Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”
Ibnul Mubarak berkata,
“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”
DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata,
“Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk Negara Islam yang benar.”
(5) Tadhiyah
At-Tadhiyah adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.
Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah, 9: 111)
Marilah kita teladani Abu Bakar yang rela mengorbankan seluruh hartanya pada masa peperangan Tabuk. Begitu pula Shuhaib Ar-Rumi rela melepas apa yang dimiliki ke tangan kaum musyrikin untuk membela agama Allah hijrah dari Makkah ke Madinah.
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-baqarah, 2: 207)
(6) Taat pada Qiyadah
Amal harakah islamiyah adalah amal jama’i. Ada jundi (prajurit) dan ada qiyadah (komandan). Keduanya terikat dalam perjuangan dilandasi kesamaan visi, misi, dan program. Sikap taat—karena Allah—kepada qiyadah adalah keharusan dalam sebuah amal jama’i.
Apa yang akan terjadi jika program dan tugas dakwah yang telah direncanakan diterima oleh telinga yang tidak mampu mendengar, semangat yang melempem, serta hati yang berkecenderungan untuk membantah dan sombong? Tentu saja proyek-proyek besar akan mandeg seketika, amal-amal mulia akan mengalami kelumpuhan dan terkubur tanpa ada seorang pun yang melayatnya.
Kita tentu tahu ibrah agung dalam peperangan Uhud, bagaimana Rasulullah saw memerintahkan para pemanah untuk tidak meninggalkan posisi mereka apa pun yang terjadi. Akan tetapi tatkala mereka melihat kemenangan seolah-olah telah berpihak pada kaum muslimin, mereka turun meninggalkan posisinya dan melanggar perintah Rasulullah saw. Akhirnya terjadi serangan balik dari musyrikin yang menyebabkan 70 orang muslimin syahid. Pelajaran ini menegaskan tentang wajibnya ketaatan.
Karena itu para pengemban dakwah harus senantiasa siap melaksanakan perintah qiyadah dan merealisir dengan segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.
(7) Tsabat
Tsabat artinya teguh beramal sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya.
Seorang pengemban dakwah hendaknya tetap dalam keadaan seperti itu sampai bertemu Allah swt. Niscaya ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu hidup mulia atau mati syahid.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (QS. Al-Ahzab, 33: 23)
(8) Tajarrud
Tajarrud artinya totalitas atau bersungguh-sungguh pada suatu urusan. Di antara tanda-tanda sikap tajarrud yang harus dimiliki para pengemban dakwah adalah:
Pertama, mampu mensikapi manusia atau segala sesuatu dengan timbangan dakwah. Apakah ia berhak mendapatkan loyalitas atau berhak mendapatkan permusuhan.
Sesungguhnya telah ada suri tauldan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah, 60: 4)
Kedua, tidak merasa berat mempersembahkan jiwa di jalan Allah ta’ala dan mengatur segala urusannya serta seluruh kehidupannya sejalan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ta’ala.
Para pengemban dakwah harus mampu menegakkan al-haq di dalam jiwa, nurani, dan kehidupan mereka, dalam bentuk aqidah, akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Hasan Hudhaibi berkata: “Wahai Ikhwan, tegakkanlah Islam di dalam hatimu, tentu ia akan tegak di bumimu.”
(9) Menjaga Ukhuwah
Ukhuwah adalah kekuatan iman yang menumbuhkan perasaan simpati, emosi yang tulus, kecintaan, kasih sayang, penghargaan, penghormatan, dan saling percaya antar orang-orang yang terikat dengan akidah tauhid dan manhaj Islam. Ukhuwah dapat menumbuhkan sikap saling tolong menolong, saling mengutamakan orang lain, saling mengasihi, saling memaafkan, saling berlapang dada, saling menanggung, dan saling mengokohkan.
Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatush shadr (bersihnya hati dari buruk sangka) dan yang tertinggi adalah itsar (mengutamakan orang lain). Seandainya para pengemban dakwah mengalami penurunan dari tingkatan ukhuwah yang paling rendah—yaitu salamatush shadr—maka perpecahan akan muncul dan pertentangan akan semakin meluas. Kedua hal ini dapat mengantarkan jama’ah dakwah pada kekalahan dan kehancuran.
Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar., (QS. Al-Anfal, 8: 46)
(10) Tsiqah
Bekal terakhir yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah tsiqah, yakni rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.
Para prajurit dakwah hendaknya selalu waspada dan berhati-hati terhadap musuh-musuh yang selalu berupaya menimbulkan friksi internal demi memenangkan pertarungan melawan al-haq. Untuk itu para pengemban dakwah harus menjaga dan memperkokoh tsiqah-nya pada pemimpin agar dakwah terus bergulir mencapai tujuannya.
Wallahu a’lam.
*Maraji’: Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, Muhammad Abdullah Al-Khatib & Muhammad Abdul halim Hamid.
Dengan begitu dakwah islamiyah juga merupakan gerakan iqomatuddin (penegakkan agama). Sebuah proses menyeluruh yang mengupayakan terjadinya peralihan struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat.
“…supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al-Anfal, 8: 39)
Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Karena demikian banyak waktu dan tenaga yang akan terkuras. Demikian panjang dan terjal jalan yang harus dilalui. Oleh karena itu para pengemban dakwah wajib menyiapkan bekal yang cukup di perjalanan.
(1) Ilmu dan Pemahaman
Bekal utama para pengemban dakwah adalah ilmu dan pemahaman. Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid dalam Nazharat fi risalatut ta’lim menyatakan, “Pemahaman yang benar dapat membantu mewujudkan amal yang benar, penerapannya yang tepat, dan dapat memelihara pemiliknya dari ketergelinciran.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka unsur merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya.”
Orang ikhlas yang beramal, tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dapat tersesat jauh dari jalan kebenaran.
(2) Keikhlasan
Selain ilmu dan pemahaman, bekal lain yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah keikhlasan. Sehingga amalnya tidak tercampuri oleh keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan materi, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan mereka, mengikuti bisikan nafsu, atau ambisi-ambisi lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apa pun bentuknya.
Para pengemban dakwah hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat maupun gelar. Dengan begitu ia menjadi ‘tentara aqidah’, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia.
Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An’am, 6: 162-163)
(3) Stamina Amal
Peradaban Islam mustahil terwujud dengan amal tak beraturan, sporadis, reaksioner, temporer dan tambal sulam. Apalagi sekedar menebar slogan mentereng dan propaganda kosong. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib membekali diri mereka dengan stamina amal yang kuat. Karena mereka akan melakukan amal secara berkesinambungan, tanpa lelah dan tanpa bosan. Ingatlah, sungguh tiada tempat sedikitpun bagi orang-orang yang malas dan berpangku tangan dalam barisan dakwah.
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah, 9: 105)
(4) Ruhul Jihad
Tanpa jihad, dakwah tidak akan pernah hidup. Urutan jihad yang pertama yang dituntut dari para pengemban dakwah adalah pengingkaran hati terhadap kemaksiatan pada Allah, dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah ta’ala. Diantara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Hajj, 22: 78)
Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad,
“Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”
Muqatil berkata,
Makna jihad adalah “Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”
Ibnul Mubarak berkata,
“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”
DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata,
“Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk Negara Islam yang benar.”
(5) Tadhiyah
At-Tadhiyah adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.
Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah, 9: 111)
Marilah kita teladani Abu Bakar yang rela mengorbankan seluruh hartanya pada masa peperangan Tabuk. Begitu pula Shuhaib Ar-Rumi rela melepas apa yang dimiliki ke tangan kaum musyrikin untuk membela agama Allah hijrah dari Makkah ke Madinah.
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-baqarah, 2: 207)
(6) Taat pada Qiyadah
Amal harakah islamiyah adalah amal jama’i. Ada jundi (prajurit) dan ada qiyadah (komandan). Keduanya terikat dalam perjuangan dilandasi kesamaan visi, misi, dan program. Sikap taat—karena Allah—kepada qiyadah adalah keharusan dalam sebuah amal jama’i.
Apa yang akan terjadi jika program dan tugas dakwah yang telah direncanakan diterima oleh telinga yang tidak mampu mendengar, semangat yang melempem, serta hati yang berkecenderungan untuk membantah dan sombong? Tentu saja proyek-proyek besar akan mandeg seketika, amal-amal mulia akan mengalami kelumpuhan dan terkubur tanpa ada seorang pun yang melayatnya.
Kita tentu tahu ibrah agung dalam peperangan Uhud, bagaimana Rasulullah saw memerintahkan para pemanah untuk tidak meninggalkan posisi mereka apa pun yang terjadi. Akan tetapi tatkala mereka melihat kemenangan seolah-olah telah berpihak pada kaum muslimin, mereka turun meninggalkan posisinya dan melanggar perintah Rasulullah saw. Akhirnya terjadi serangan balik dari musyrikin yang menyebabkan 70 orang muslimin syahid. Pelajaran ini menegaskan tentang wajibnya ketaatan.
Karena itu para pengemban dakwah harus senantiasa siap melaksanakan perintah qiyadah dan merealisir dengan segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.
(7) Tsabat
Tsabat artinya teguh beramal sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya.
Seorang pengemban dakwah hendaknya tetap dalam keadaan seperti itu sampai bertemu Allah swt. Niscaya ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu hidup mulia atau mati syahid.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (QS. Al-Ahzab, 33: 23)
(8) Tajarrud
Tajarrud artinya totalitas atau bersungguh-sungguh pada suatu urusan. Di antara tanda-tanda sikap tajarrud yang harus dimiliki para pengemban dakwah adalah:
Pertama, mampu mensikapi manusia atau segala sesuatu dengan timbangan dakwah. Apakah ia berhak mendapatkan loyalitas atau berhak mendapatkan permusuhan.
Sesungguhnya telah ada suri tauldan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah, 60: 4)
Kedua, tidak merasa berat mempersembahkan jiwa di jalan Allah ta’ala dan mengatur segala urusannya serta seluruh kehidupannya sejalan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ta’ala.
Para pengemban dakwah harus mampu menegakkan al-haq di dalam jiwa, nurani, dan kehidupan mereka, dalam bentuk aqidah, akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Hasan Hudhaibi berkata: “Wahai Ikhwan, tegakkanlah Islam di dalam hatimu, tentu ia akan tegak di bumimu.”
(9) Menjaga Ukhuwah
Ukhuwah adalah kekuatan iman yang menumbuhkan perasaan simpati, emosi yang tulus, kecintaan, kasih sayang, penghargaan, penghormatan, dan saling percaya antar orang-orang yang terikat dengan akidah tauhid dan manhaj Islam. Ukhuwah dapat menumbuhkan sikap saling tolong menolong, saling mengutamakan orang lain, saling mengasihi, saling memaafkan, saling berlapang dada, saling menanggung, dan saling mengokohkan.
Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatush shadr (bersihnya hati dari buruk sangka) dan yang tertinggi adalah itsar (mengutamakan orang lain). Seandainya para pengemban dakwah mengalami penurunan dari tingkatan ukhuwah yang paling rendah—yaitu salamatush shadr—maka perpecahan akan muncul dan pertentangan akan semakin meluas. Kedua hal ini dapat mengantarkan jama’ah dakwah pada kekalahan dan kehancuran.
Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar., (QS. Al-Anfal, 8: 46)
(10) Tsiqah
Bekal terakhir yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah tsiqah, yakni rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.
Para prajurit dakwah hendaknya selalu waspada dan berhati-hati terhadap musuh-musuh yang selalu berupaya menimbulkan friksi internal demi memenangkan pertarungan melawan al-haq. Untuk itu para pengemban dakwah harus menjaga dan memperkokoh tsiqah-nya pada pemimpin agar dakwah terus bergulir mencapai tujuannya.
Wallahu a’lam.
*Maraji’: Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, Muhammad Abdullah Al-Khatib & Muhammad Abdul halim Hamid.
10 Karakteristik Seorang Muslim
Hasan Al Banna merumuskan 10 karakteristik muslim yang dibentuk didalam madrasah tarbawi. Karakteristik ini seharusnya yang menjadi ciri khas dalam diri seseorang yang mengaku sebagai muslim, yang dapat menjadi furqon (pembeda) yang merupakan sifat-sifat khususnya (muwashofat).
Karakter ini menurut Beliau, merupakan pilar pertama terbentuknya masyarakat islam maupun tertegaknya sistem islam dimuka bumi serta menjadi soko guru peradaban dunia (Ustadziyatul 'alam). Kesepuluh karakter itu adalah :
1. Salimul Aqidah
Bersih Akidahnya (salimul aqidah) dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya pada syirik. Salimul aqidah merupakan karakter yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Benar Ibadahnya (shahihul ibadah) menurut AlQur'an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid'ah yang dapat menyesatkannya. Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasululloh SAW yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq.
Mulia Akhlaknya (matinul khuluq) atau akhlak yang kokoh merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi.
Kuat Fisiknya (qowiyyul jismi) sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Alloh SWT. Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri.
Luas wawasan berfikirnya (mutsaqqoful fikri) sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya. Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi.
Bersungguh sungguh dalam jiwanya (mujahadatul linafsihi) sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain. Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Haritsun 'Ala Waqtihi.
Efisien dalam memanfaatkan waktunya (haritsun 'ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fii Syu'unihi.
Tertata dalam urusannya (munzhzhamun fii syu'unihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun 'Alal Kasbi.
Mampu mencukupi kebutuhannya sendiri (qodirun 'alal kasbi) atau yang juga disebut dengan Mandiri merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, Mudah-mudahan dengan kesepuluh karakter yang dikemukakan diatas menjadikan kita termotivasi untuk dapat merealisasikannya dalam diri kita.Amin.
Karakter ini menurut Beliau, merupakan pilar pertama terbentuknya masyarakat islam maupun tertegaknya sistem islam dimuka bumi serta menjadi soko guru peradaban dunia (Ustadziyatul 'alam). Kesepuluh karakter itu adalah :
1. Salimul Aqidah
Bersih Akidahnya (salimul aqidah) dari sesuatu hal yang mendekatkan dan menjerumuskan dirinya pada syirik. Salimul aqidah merupakan karakter yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Benar Ibadahnya (shahihul ibadah) menurut AlQur'an dan Assunnah serta terjauh dari segala Bid'ah yang dapat menyesatkannya. Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasululloh SAW yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq.
Mulia Akhlaknya (matinul khuluq) atau akhlak yang kokoh merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi.
Kuat Fisiknya (qowiyyul jismi) sehingga dapat mengatur segala kepentingan bagi jasmaninya yang merupakan amanah/titipan dari Alloh SWT. Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri.
Luas wawasan berfikirnya (mutsaqqoful fikri) sehingga dia mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi disekitarnya. Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi.
Bersungguh sungguh dalam jiwanya (mujahadatul linafsihi) sehingga menjadikannya seseorang yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan ataupun kejadian sehingga berdampak baik pada dirinya ataupun orang lain. Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Haritsun 'Ala Waqtihi.
Efisien dalam memanfaatkan waktunya (haritsun 'ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fii Syu'unihi.
Tertata dalam urusannya (munzhzhamun fii syu'unihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Sehingga menjadikan kehidupannya teratur dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab dan amanahnya. Dapat menyelesaikan semua masalahnya dengan baik dengan cara yang baik. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun 'Alal Kasbi.
Mampu mencukupi kebutuhannya sendiri (qodirun 'alal kasbi) atau yang juga disebut dengan Mandiri merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, Mudah-mudahan dengan kesepuluh karakter yang dikemukakan diatas menjadikan kita termotivasi untuk dapat merealisasikannya dalam diri kita.Amin.
IKHWAN apa BAKWAN...?!
Oh.... Ikhwan
Apa bedanya dengan si Marwan
Si Ali, Paijo atau si Iwan
Oh ternyata cuma sebutan
Oh.... Ikhwan
Walaupun tidak rupawan
Alias modal tampang pas-pasan
Tetep aja tebar senyuman
Oh.... Ikhwan
Gayanya sih bisa ketebak & kelihatan
Jenggot melambai,baju koko & sendal jepit usang
Sesekali komat-kamit sambil jalan
Oh.... Ikhwan
Nyarinya susah-susah gampang
Kadang di masjid, kampus or sekolahan
Mungkin juga lagi nyari sampingan
Nggak taunya buat biaya walimahan :)
Oh.... Ikhwan
Ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
Juga Liqo'an and hapalan
Kata orang "Nggak ada bahasan yang lain, wan ?"
Oh.... Ikhwan
Anehnya kalo lagi jalan
Ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, wan?
Oh..... ternyata dia jaga pandangan !!!
Ikhwan... Ikhwan...
Lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
Langsung minggir! , acuh tak acuh kaya' musuhan
(Gubrak...!!!!! apaan tuh, wan?)
Eh.... dia jatuh, kagak ngeliat ada selokan :))
Oh.... Ikhwan
Apa semuanya begitu, wan ?
Ada nggak yang masih tebar pesona & jelalatan ?
Berarti itu bukan ikhwan, (kan cuma sebutan ?!!)
Nah para akhwat, hati-hati mungkin dia nyari pasangan
Atau mungkin ikhwan bermental bakwan...?!
(he..hee.., cuma intermezzo, jangan pada marah lo, wan)
Apa bedanya dengan si Marwan
Si Ali, Paijo atau si Iwan
Oh ternyata cuma sebutan
Oh.... Ikhwan
Walaupun tidak rupawan
Alias modal tampang pas-pasan
Tetep aja tebar senyuman
Oh.... Ikhwan
Gayanya sih bisa ketebak & kelihatan
Jenggot melambai,baju koko & sendal jepit usang
Sesekali komat-kamit sambil jalan
Oh.... Ikhwan
Nyarinya susah-susah gampang
Kadang di masjid, kampus or sekolahan
Mungkin juga lagi nyari sampingan
Nggak taunya buat biaya walimahan :)
Oh.... Ikhwan
Ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
Juga Liqo'an and hapalan
Kata orang "Nggak ada bahasan yang lain, wan ?"
Oh.... Ikhwan
Anehnya kalo lagi jalan
Ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, wan?
Oh..... ternyata dia jaga pandangan !!!
Ikhwan... Ikhwan...
Lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
Langsung minggir! , acuh tak acuh kaya' musuhan
(Gubrak...!!!!! apaan tuh, wan?)
Eh.... dia jatuh, kagak ngeliat ada selokan :))
Oh.... Ikhwan
Apa semuanya begitu, wan ?
Ada nggak yang masih tebar pesona & jelalatan ?
Berarti itu bukan ikhwan, (kan cuma sebutan ?!!)
Nah para akhwat, hati-hati mungkin dia nyari pasangan
Atau mungkin ikhwan bermental bakwan...?!
(he..hee.., cuma intermezzo, jangan pada marah lo, wan)
Ikhwan Sejati...
IBU.., CERITAKAN KEPADAKU TENTANG IKHWAN SEJATI…
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya:
"Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…"
Sang Ibu tersenyum dan menjawab…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya….
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…..
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…
….setelah itu, sang remaja kembali bertanya…
” Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…. “Pelajari tentang dia…”
ia pun mengambil buku itu..
“MUHAMMAD”, judul buku yang tertulis di buku itu.
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya:
"Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…"
Sang Ibu tersenyum dan menjawab…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya….
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…..
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya…
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…
….setelah itu, sang remaja kembali bertanya…
” Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…. “Pelajari tentang dia…”
ia pun mengambil buku itu..
“MUHAMMAD”, judul buku yang tertulis di buku itu.
Pribadi Muslim Idaman
Kiat membangun pribadi Muslim berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.
1. Membangun kepribadian muslim. (Utuh, mandiri, matang dan seimbang)
Ingatlah kutbah Rasulullah saat haji wada’: “kulit hitam, putih, merah adalah sama, seperti sisir yang utuh, tidak ada kelebihan diantaranya.” Dari gambaran yang dikatakan Rasulullah kita mengerti warna kulit bukanlah sebuah kelebihan. Orang yang berkulit putih bukanlah yang unggul ataupun lebih hebat dari yang lain, begitupun sebaliknya. Karena tidak ada yang istimewa diantara semua itu di hadapan Allah, yang membedakan mereka adalah ketakwaan yang dimiliki. Siapa yang memiliki keimanan dan ketaatan itulah yang lebuh utama.
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." Q.S. Al Baqarah : 285
Pemebentukan kepribadian seorang muslim seharusnya dimulai sejak dia lahir di dunia ini. Pembentukan ini dapat dilakukan dengan pembiasaan dalam pengamalan-pengamalan ajaran islam dan juga dengan sering berkumpul bersama orang-orang yang saleh. Sebab orang-orang yang berada disekitar kita, yang sering kita lihat perilakunya, kita dengar perkataannya akan mempengaruhi pola fikir kita. Selain pembentukan pola berfikir islam kita juga harus mulai mengenal bagaimana menghidupi diri sendiri, yak ni dengan berlatih berwirausaha sejak kita masih kecil. Sebab seorang yang sudah balig secara fisik berarti dia sudah memiliki tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, sebagaimana orang dewasa. Sehingga setiap yang dia fikirkan, yang dia sembunyikan dalam hati, yang dia katakana, yang dia perbuat baik sengaja maupun tidak disengaja akan dicatat oleh Allah. Karena semuat itu anati akan kita pertanggungjawabkan pada Allah di akhir nanti.
kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Q.S Al Baqarah : 284
Hasil survey membuktikan rata-rata seseorang mencapai usia balik pada saat kelas 4 SD yang hamper 50% dan 100% di kelas 6 SD jadi konsep kepribadian muslim, utuh, mandiri, matang dan seimbang harus ditanamkan pada saat masih duduk di sekolah dasar. Baik menegenal islam maupun berwirausaha. Sebagai persiapan mereka menghadappi masa depan.
2. Membangun pribadi da’i
Yaitu pribadi yang senantiasa berbagi dan hidup untuk berbagi. Maksudnya ketika seseorang telah melewati fase membangun kepribadian muslim, utuh, mandiri, matang dan seimbang, selanjutnya ialah membangun kepribadian da’i. Orang yang telah siap selanjutnya belajar untuk berbagi , dengan lebih banyak member dari pada meminta(menerima), hal yang dibagi bukan hanya harta benda saja melainkan juga ilmu yang bermanfaat. Pada fase ini seseorang sudah mulai mengemban tugas dakwah yang secara bahasa berarti mengajak (kebenaran). Hal ini ideal dilakukan pada saat seseorang sudah menginjak usia SMP. Sebab pada masa ini mereka secara psikologis sangat tertarik pada hal-hal baru.
“Barang siapa mengerjakan sholat karena Allah semata selama 40 hari berturut/tanpa terputus secara berjama’ah dengan selalu mendapatkan takbir pertama imam maka diwajibkan bagi orang tersebut 2 kebebasan, kebebasan terhadap api neraka dan kebebasan dari orang munafik” (HR. Tirmidzi)
3. Membangun pribadi pemimpin
Ciri dari pribadi pemimpin ialah apabila dia menadapatkan masalah maka ddia tahu apa uang harus dilakukan dan dapat menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Dan apabila ada teman atau saudara yang memiliki masalah maka dia tidak sgan untuk mebantu menyelesaikan masalah tersebut. Jadi seorang pemimpin itu ialah orang yang selalu berfikir cerdas dengan banyak inisiatif dan ide-ide kretif. Sikap seperti ini harus mulai dilatih pada saat seseorang menginjak masa SMA/SMK, pada masa ini mereka sudah mulai bisa menggunakan logika mereka. Dengan sering berlatih maka kemampuan mereka akan semakin baik dan akan menjadi pemimpin yang baik.
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk Maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. Q.S. Az Zumar 41-42
[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.
4. Membangun pribadi rahmatanlilalamin
Setelah kita melewati 3 tahapan fase tadi maka tahapan berikutnya ialah membangun pribadi rahmatanlilalamin, hal ini dilakukan setelah seseorang lulus SMA/SMK. Sebelumnya kita mebahas pribadi rahmatanlilalamin, kita tengok kebelakang dahulu apakah yang menjadi cita-cita kita. Apakah hanya belajar disekolah, kuliah, cari kerja, menikah dan punya anak. Semua orang normal apabila ditanya pasti sebagian besar menjawab seperti itu. Sungguh indah jika memang dunia ini sudah berisi orang-orang yang bertaqwa, sehingga kita hanya perlu memikirkan diri sendiri; istri, dan anak. Jadi kita hanya memiliki tanggungan kepada 3 orang saja. Namun dalam islam tidak seperti itu, kita diwajibkan untukmengajak saudara-saudara kita kepada jalan Allah. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau tidak hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga saja. Namun beliau juga memikirkan seluruh umat manusia.
dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan, Maka Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, Maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa)[830]. Maka Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Q.S An NAhl 43-47
[828] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
[829] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.
[830] Menurut sebahagian ahli tafsir, Takhawwuf berarti dalam Keadaan takut.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Q.S Al Ashr 2-3
Dalam alquran pun kita dianjurkan untuk saling menasehati, oleh karena itu kemaslahan umat manusia sesungguhnya merupakan tanggungjawab kita sebagai seorang muslim.
Ikhwafillah sudahkah anda memiliki konsep diri sesuai dengan konsep yang diajarkan oleh Rasulullah. Marilah kita bermuhasabah diri, kita pikirkan apa saja yang telah kita pelajari dan kita dapatkan selama ini. Sudahkah semua itu bisa kita pertanggungjawabkan nanti kepada Allah, ingatlah semua yang kita lakukan, fikirkan, ataupun sembunyikan dalam hati semuanya di catat oleh-Nya. Marilah kita berfastabiqulkhoirot untuk menjadi pribadi muslim yang ideal sesuai dengan ajaran yang di ajarkan dalam agama Isalam.
Semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi saya sendiri dan juga bagi anda(pembaca). Apabila ada kekurangan itu adalah karena kelemahan saya sebagai seorang manusia. Apabila ada kebenaran itu semata karena Allah yang telah menunjukkan kebenaran kepada kita. Sekian.
Jazakumullah khoiron katsir
Oleh: Kelik Isbiyantoro berdasarkan tausiyah dari Ustad Muszafri
1. Membangun kepribadian muslim. (Utuh, mandiri, matang dan seimbang)
Ingatlah kutbah Rasulullah saat haji wada’: “kulit hitam, putih, merah adalah sama, seperti sisir yang utuh, tidak ada kelebihan diantaranya.” Dari gambaran yang dikatakan Rasulullah kita mengerti warna kulit bukanlah sebuah kelebihan. Orang yang berkulit putih bukanlah yang unggul ataupun lebih hebat dari yang lain, begitupun sebaliknya. Karena tidak ada yang istimewa diantara semua itu di hadapan Allah, yang membedakan mereka adalah ketakwaan yang dimiliki. Siapa yang memiliki keimanan dan ketaatan itulah yang lebuh utama.
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." Q.S. Al Baqarah : 285
Pemebentukan kepribadian seorang muslim seharusnya dimulai sejak dia lahir di dunia ini. Pembentukan ini dapat dilakukan dengan pembiasaan dalam pengamalan-pengamalan ajaran islam dan juga dengan sering berkumpul bersama orang-orang yang saleh. Sebab orang-orang yang berada disekitar kita, yang sering kita lihat perilakunya, kita dengar perkataannya akan mempengaruhi pola fikir kita. Selain pembentukan pola berfikir islam kita juga harus mulai mengenal bagaimana menghidupi diri sendiri, yak ni dengan berlatih berwirausaha sejak kita masih kecil. Sebab seorang yang sudah balig secara fisik berarti dia sudah memiliki tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, sebagaimana orang dewasa. Sehingga setiap yang dia fikirkan, yang dia sembunyikan dalam hati, yang dia katakana, yang dia perbuat baik sengaja maupun tidak disengaja akan dicatat oleh Allah. Karena semuat itu anati akan kita pertanggungjawabkan pada Allah di akhir nanti.
kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Q.S Al Baqarah : 284
Hasil survey membuktikan rata-rata seseorang mencapai usia balik pada saat kelas 4 SD yang hamper 50% dan 100% di kelas 6 SD jadi konsep kepribadian muslim, utuh, mandiri, matang dan seimbang harus ditanamkan pada saat masih duduk di sekolah dasar. Baik menegenal islam maupun berwirausaha. Sebagai persiapan mereka menghadappi masa depan.
2. Membangun pribadi da’i
Yaitu pribadi yang senantiasa berbagi dan hidup untuk berbagi. Maksudnya ketika seseorang telah melewati fase membangun kepribadian muslim, utuh, mandiri, matang dan seimbang, selanjutnya ialah membangun kepribadian da’i. Orang yang telah siap selanjutnya belajar untuk berbagi , dengan lebih banyak member dari pada meminta(menerima), hal yang dibagi bukan hanya harta benda saja melainkan juga ilmu yang bermanfaat. Pada fase ini seseorang sudah mulai mengemban tugas dakwah yang secara bahasa berarti mengajak (kebenaran). Hal ini ideal dilakukan pada saat seseorang sudah menginjak usia SMP. Sebab pada masa ini mereka secara psikologis sangat tertarik pada hal-hal baru.
“Barang siapa mengerjakan sholat karena Allah semata selama 40 hari berturut/tanpa terputus secara berjama’ah dengan selalu mendapatkan takbir pertama imam maka diwajibkan bagi orang tersebut 2 kebebasan, kebebasan terhadap api neraka dan kebebasan dari orang munafik” (HR. Tirmidzi)
3. Membangun pribadi pemimpin
Ciri dari pribadi pemimpin ialah apabila dia menadapatkan masalah maka ddia tahu apa uang harus dilakukan dan dapat menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Dan apabila ada teman atau saudara yang memiliki masalah maka dia tidak sgan untuk mebantu menyelesaikan masalah tersebut. Jadi seorang pemimpin itu ialah orang yang selalu berfikir cerdas dengan banyak inisiatif dan ide-ide kretif. Sikap seperti ini harus mulai dilatih pada saat seseorang menginjak masa SMA/SMK, pada masa ini mereka sudah mulai bisa menggunakan logika mereka. Dengan sering berlatih maka kemampuan mereka akan semakin baik dan akan menjadi pemimpin yang baik.
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk Maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. Q.S. Az Zumar 41-42
[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.
4. Membangun pribadi rahmatanlilalamin
Setelah kita melewati 3 tahapan fase tadi maka tahapan berikutnya ialah membangun pribadi rahmatanlilalamin, hal ini dilakukan setelah seseorang lulus SMA/SMK. Sebelumnya kita mebahas pribadi rahmatanlilalamin, kita tengok kebelakang dahulu apakah yang menjadi cita-cita kita. Apakah hanya belajar disekolah, kuliah, cari kerja, menikah dan punya anak. Semua orang normal apabila ditanya pasti sebagian besar menjawab seperti itu. Sungguh indah jika memang dunia ini sudah berisi orang-orang yang bertaqwa, sehingga kita hanya perlu memikirkan diri sendiri; istri, dan anak. Jadi kita hanya memiliki tanggungan kepada 3 orang saja. Namun dalam islam tidak seperti itu, kita diwajibkan untukmengajak saudara-saudara kita kepada jalan Allah. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau tidak hanya memikirkan diri sendiri dan keluarga saja. Namun beliau juga memikirkan seluruh umat manusia.
dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan, Maka Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, Maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu), atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa)[830]. Maka Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Q.S An NAhl 43-47
[828] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
[829] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.
[830] Menurut sebahagian ahli tafsir, Takhawwuf berarti dalam Keadaan takut.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Q.S Al Ashr 2-3
Dalam alquran pun kita dianjurkan untuk saling menasehati, oleh karena itu kemaslahan umat manusia sesungguhnya merupakan tanggungjawab kita sebagai seorang muslim.
Ikhwafillah sudahkah anda memiliki konsep diri sesuai dengan konsep yang diajarkan oleh Rasulullah. Marilah kita bermuhasabah diri, kita pikirkan apa saja yang telah kita pelajari dan kita dapatkan selama ini. Sudahkah semua itu bisa kita pertanggungjawabkan nanti kepada Allah, ingatlah semua yang kita lakukan, fikirkan, ataupun sembunyikan dalam hati semuanya di catat oleh-Nya. Marilah kita berfastabiqulkhoirot untuk menjadi pribadi muslim yang ideal sesuai dengan ajaran yang di ajarkan dalam agama Isalam.
Semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi saya sendiri dan juga bagi anda(pembaca). Apabila ada kekurangan itu adalah karena kelemahan saya sebagai seorang manusia. Apabila ada kebenaran itu semata karena Allah yang telah menunjukkan kebenaran kepada kita. Sekian.
Jazakumullah khoiron katsir
Oleh: Kelik Isbiyantoro berdasarkan tausiyah dari Ustad Muszafri
Murobbi
Murobbi sebuah nama yang tidak asing bagi anda yang aktif megikuti halaqah. Setiap anda yang mengikuti halakah pasti memiliki seorang murobbi. Murobbi merupakkan seseorang bertindak sebagai pentarbiyah dalam suatu halaqah. Dia ialah teladan bagi binaannya. Dia yang memberikan pengarahan, pemahaman, dan melakukan transfer ilmu yang dia miliki kepada para mad’unya. Menjadi seorang muroobi adalah salah satu jalan dalam melakukan dakwah. Setiap orang memiliki persepsi tersendiri tentang murobbi. Menurut persepsi saya murobbi itu:
1. Pemimpin
Murobbi merupakan pemimpin dalam halaqah binaannya. Dia menjadi teladan, panutan dan tempat bersandar saat menghadapi masalah bagi mad’unya. Murobbi dikatakan sebagai pemimpin karena dia memimpin halaqahnya menuju kearah mana? Apakah kearah yang ma’ruf atau kearah kemungkaran. Disini dituntut keberanian murobbi dalam menentukan kearah mana dia akan membawa armada halaqahnya.
2. Guru
Murobbi disebut sebagi guru karena di ialah seorang pendidik. Mengajarkan ilmu-ilmu yang ia miliki kepada para mad’unya. Dalam setiap halaqah dia menyampaikan pelajaran-pelajaran kehidupan, baik yang berorientasi pada duniawi maupun akhirat. Selain itu dia juga menjadi teladan bagi para mad’unya, setiap tindakannya merupakan apa yang diamati dan dipelajari mad’unya. Karena itu murobbi haruslah mampu menjaga keistiqomahaannya dalam dalam beramar makruf nahi mungkar. Selain itu murobbi juga sebagai control, sebab setiap pertemuan dia haruslah mengevalusi kondisi mad’unya. Apakah dalam keadaan yang baik atau sedang dalam permasalaha, sehingga tujuan halaqah dapat tercapai.
3. Teman
Murobbi menjadi teman bagi para mad’unya, sebab dikala waktu tertentu mad’u membutuhkan seorang teman untuk berbagi yang biasanya sungkan bila dengan teman dekatnya. Karena itu murobbi merupakkan sosok yang tepat untuk sharing tentang permasalahan yang dialami. Selain itu murobbi yang biasanya berusia lebiah tua di anggap lebih dewasa oleh pada mad’unya.
4. Pejuang
Murobbi adalah pejuang yang memperjuangkan Islam. Melanjutkan estafet dakwah dari pejuang-pejuang sebelumnya demi menegakkan agama Allah. Pejuang yang selalu memerangi kemungkaran dan menegakkan kemakrufan. Pejuang yang tiada kenal surut meski aral, rintangan, halangn dan hambatan silih berganti menghampiri. Perjuang yang tiada kenal lelah karena dia sadar akan beratnya jalan dakwah yang penuh dengan liku-liku ini. Pejuang yang selalu memperjuangkan yang terbaik bagi mad’unya, selalu memper siapkan yang terbaik untuk mereka meski apapun yang terjadi. Pejuang yang tiada kenal takut karena yang patut di takuti hanyalah Allah. Pejuang yang tiada kenal berhenti/menyerah karena perjuangan di dunia ini hanya akan berhenti bila Allah sudah berkehen dak seperti itu, pada hari kiamat kelak.
5. Sicentis (Ilmuwan)
Murobbi dikatakan sebagai seorang ilmwan karena dia selalu berinovasi, mencoba hal baru, berusaha menciptakan hal baru demi kemajuan para mad’unya. Dengan semua hipotesis-hipotesis yang diperoleh dari Al Qur’an dan As Sunnah, dia bereksperimen untuk mendidik kader-kader dakwah menjadi pejuang-pejuang dakwah yang akan meneruskan perjuangan dakwah ini. Bereksperimen untuk menemukan metode-metode, cara- cara, teknik-teknik maupun motivasi-motivasi yang akan dia bagikan untuk para mad’unya. Tidak hanya bereksperimen pada mad’unya namun juga pada dirinya sendiri untuk meningkatakan kualitas diri. Sehingga mampu membuat keberjalanan dari halaqah yang dia bimbing berkembang dan berjalan dengan parsial, selalu meng upgrade diri demi mencapai visi dan misi murobbi.
Seperti itulah gambaran tentang murobbi menurt saya. Profil murobbi yang sangat saya idam-idamkan, dia mampu untuk menjadi kelima karakter tersebut sesuai dengan kebutuhan saat itu. Mampu untuk menjadi pemimpin, guru, teman, pejuang dan ilmwan pada saat dibutuhkan oleh mad’unya. Sebab seorang murobi haruslah orang-orang yang selalu berada di garis depan saat seruan dakwah berkumandang, menjadi motor yang tiada kenal lelah untuk selalu berjuang dijalan Allah.
Namun tidak semua murobbi memiliki kelima hal tersebut, tapi seorang murobbi haruslah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi yang terbaik bagi mad’unya. Menjadi figure yang akan selalu diingat oleh mad’unya karena dia adlah teladan baginya, yang selalu berusaha member yang terbaik bagi mereka.
Dari kriteria-kriteria di atas tentunya semua itu mengacu pada satu teladan kita murobbi pertama kita, murobbi yang paling kuat, murobbi yang mengajari kita akan Islam, murobbi yang paling ideal yakni Rasulullah Muhammad Salaullahu Allaihi Wassalam. Sebab bila kita ingin menemukan sosok murobbi yang sesungguhnya kita harusnya melihat meniru dan mencontoh Rosulullah Salaullahu Allaihi Wassalam. Sebab beliau ialah murobbi pertama kita yang selalu memberikan keteladan kepada kita. Beliau dalam kondisi apapun mampu menempatkan dirinya. Menjadi seorang yang membantu saat ada masalah menghampiri. Waullahua’lam
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Q.S. Al Mujaadilah : 11
By: kelikbloks.blogspot.com
1. Pemimpin
Murobbi merupakan pemimpin dalam halaqah binaannya. Dia menjadi teladan, panutan dan tempat bersandar saat menghadapi masalah bagi mad’unya. Murobbi dikatakan sebagai pemimpin karena dia memimpin halaqahnya menuju kearah mana? Apakah kearah yang ma’ruf atau kearah kemungkaran. Disini dituntut keberanian murobbi dalam menentukan kearah mana dia akan membawa armada halaqahnya.
2. Guru
Murobbi disebut sebagi guru karena di ialah seorang pendidik. Mengajarkan ilmu-ilmu yang ia miliki kepada para mad’unya. Dalam setiap halaqah dia menyampaikan pelajaran-pelajaran kehidupan, baik yang berorientasi pada duniawi maupun akhirat. Selain itu dia juga menjadi teladan bagi para mad’unya, setiap tindakannya merupakan apa yang diamati dan dipelajari mad’unya. Karena itu murobbi haruslah mampu menjaga keistiqomahaannya dalam dalam beramar makruf nahi mungkar. Selain itu murobbi juga sebagai control, sebab setiap pertemuan dia haruslah mengevalusi kondisi mad’unya. Apakah dalam keadaan yang baik atau sedang dalam permasalaha, sehingga tujuan halaqah dapat tercapai.
3. Teman
Murobbi menjadi teman bagi para mad’unya, sebab dikala waktu tertentu mad’u membutuhkan seorang teman untuk berbagi yang biasanya sungkan bila dengan teman dekatnya. Karena itu murobbi merupakkan sosok yang tepat untuk sharing tentang permasalahan yang dialami. Selain itu murobbi yang biasanya berusia lebiah tua di anggap lebih dewasa oleh pada mad’unya.
4. Pejuang
Murobbi adalah pejuang yang memperjuangkan Islam. Melanjutkan estafet dakwah dari pejuang-pejuang sebelumnya demi menegakkan agama Allah. Pejuang yang selalu memerangi kemungkaran dan menegakkan kemakrufan. Pejuang yang tiada kenal surut meski aral, rintangan, halangn dan hambatan silih berganti menghampiri. Perjuang yang tiada kenal lelah karena dia sadar akan beratnya jalan dakwah yang penuh dengan liku-liku ini. Pejuang yang selalu memperjuangkan yang terbaik bagi mad’unya, selalu memper siapkan yang terbaik untuk mereka meski apapun yang terjadi. Pejuang yang tiada kenal takut karena yang patut di takuti hanyalah Allah. Pejuang yang tiada kenal berhenti/menyerah karena perjuangan di dunia ini hanya akan berhenti bila Allah sudah berkehen dak seperti itu, pada hari kiamat kelak.
5. Sicentis (Ilmuwan)
Murobbi dikatakan sebagai seorang ilmwan karena dia selalu berinovasi, mencoba hal baru, berusaha menciptakan hal baru demi kemajuan para mad’unya. Dengan semua hipotesis-hipotesis yang diperoleh dari Al Qur’an dan As Sunnah, dia bereksperimen untuk mendidik kader-kader dakwah menjadi pejuang-pejuang dakwah yang akan meneruskan perjuangan dakwah ini. Bereksperimen untuk menemukan metode-metode, cara- cara, teknik-teknik maupun motivasi-motivasi yang akan dia bagikan untuk para mad’unya. Tidak hanya bereksperimen pada mad’unya namun juga pada dirinya sendiri untuk meningkatakan kualitas diri. Sehingga mampu membuat keberjalanan dari halaqah yang dia bimbing berkembang dan berjalan dengan parsial, selalu meng upgrade diri demi mencapai visi dan misi murobbi.
Seperti itulah gambaran tentang murobbi menurt saya. Profil murobbi yang sangat saya idam-idamkan, dia mampu untuk menjadi kelima karakter tersebut sesuai dengan kebutuhan saat itu. Mampu untuk menjadi pemimpin, guru, teman, pejuang dan ilmwan pada saat dibutuhkan oleh mad’unya. Sebab seorang murobi haruslah orang-orang yang selalu berada di garis depan saat seruan dakwah berkumandang, menjadi motor yang tiada kenal lelah untuk selalu berjuang dijalan Allah.
Namun tidak semua murobbi memiliki kelima hal tersebut, tapi seorang murobbi haruslah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi yang terbaik bagi mad’unya. Menjadi figure yang akan selalu diingat oleh mad’unya karena dia adlah teladan baginya, yang selalu berusaha member yang terbaik bagi mereka.
Dari kriteria-kriteria di atas tentunya semua itu mengacu pada satu teladan kita murobbi pertama kita, murobbi yang paling kuat, murobbi yang mengajari kita akan Islam, murobbi yang paling ideal yakni Rasulullah Muhammad Salaullahu Allaihi Wassalam. Sebab bila kita ingin menemukan sosok murobbi yang sesungguhnya kita harusnya melihat meniru dan mencontoh Rosulullah Salaullahu Allaihi Wassalam. Sebab beliau ialah murobbi pertama kita yang selalu memberikan keteladan kepada kita. Beliau dalam kondisi apapun mampu menempatkan dirinya. Menjadi seorang yang membantu saat ada masalah menghampiri. Waullahua’lam
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Q.S. Al Mujaadilah : 11
By: kelikbloks.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)
